[Pria Kopi – 2] Kejutan Kecil

kejutan-mawarSiang itu sungguh terik. Sinar matahari menyilaukan mata, padahal sudah melewati pukul satu siang. Meski peluh berlomba lari di atas kulit leherku, aku tak mengucir rambut ikalku yang panjangnya sedikit melebihi bahu. Tak kuhiraukan mata harus memincing atau rambut yang menempel di kulit, aku bersemangat menggandeng tangan dua teman kuliahku menuju kantin kampus.

Setelah kami kenyang dengan semangkuk bakso solo dengan tambahan lontong dan segelas es jeruk peras, kami beranjak menuju parkir untuk berpisah dan merindu dengan empuknya kasur kamar. Kali ini parkir masih sedikit lagi jaraknya, saat aku melihatmu berdiri di bawah penunjuk jalan ‘Dilarang Berhenti’. Langkahku terhenti, membuatku tertinggal agak jauh dari teman-temanku.
Continue reading

Advertisements

Mantra yang Dirapal

Semua sesajen sudah tertata rapi di atas meja yang diletakkan di halaman rumah pak Sarmin. Jarwo memperhatikan sekeliling lalu merapal sebait doa sebagai bentuk syukur kepada-Nya. Kemudian dia mengambil air dari wadah kuningan yang dia genggam untuk kemudian dia ciprat-cipratkan ke arah sesajen.

Dia puas, lantas berjalan ke arah rombongannya. “Wes siap?” tanyanya pada para penarinya.
Continue reading

[Pria Kopi – 1] Perkenalan Air Putih dan Kopi

Kami bertemu saat masih sama-sama culun, tak tahu bagaimana cinta bisa menjadi bara dalam kepala yang membeku karena tumpukan beban hidup. Aku ingat, dia tersenyum sangat manis saat membantuku mengambil kaleng-kaleng buah leci yang berhamburan di lantai sebuah toserba, karena kelemahanku -tampaknya- dalam mengendalikan syarafku.

“Terima kasih,” ucapku. Tapi tak ada kata balasan. Dia hanya tersenyum. Dan kutahu dia hanya memiliki sebuah lesung di pipi kanannya saja.

Entah magnet bernama apa yang dia pasang di tubuhnya, membuatku tiba-tiba tertarik mendekatinya. Meskipun saat itu dia sudah berdiri di kasir dengan menyelipkan jemari kirinya di saku celana. Dan hal paling tidak masuk akal yang aku lakukan hari ini adalah meninggalkan troli belanjaanku lalu berjalan cepat menyusulnya yang sudah keluar dari toserba.

“Maaf,” ucapku dengan nafas tersengal-sengal. “Nama kamu siapa?”

Continue reading

(Cerfet #MFF1) : Bumerang Masa Lalu

credit
 
**
Alya melajukan mobilnya dengan kencang, tak peduli dengan kondisi jalan yang tak sepi. Yang ada dipikirannya sekarang adalah menceritakan segala gelisah yang tertoreh di ruang hatinya kepada neneknya. Nenek Malinda. Hanya pada Malinda dia bisa terbuka, hanya pada Malinda dia menceritakan segala rahasia yang dia punya. Malinda adalah sosok pelindung yang bijak, disiplin dan terbuka. Sesibuk apapun dia dengan usaha konveksinya, Malinda selalu memiliki waktu untuk Alya.
Setelah Alya memarkirkan mobilnya, bergegas dia menuju dalam rumah dengan setengah berlari. Tanpa salam, tanpa sapaan, dia langsung memeluk Malinda yang sedari tadi menanti di sofa panjang di ruang tamu. Air matanya berlomba turun ke pipi, badannya lunglai benar karena hati yang terlalu patah oleh cinta. Malinda tak bertanya ada apa dengan cucu perempuan satu-satunya ini. Yang dia lakukan hanyalah menunggu Alya menceritakan keluh kesahnya.
“Nek, apakah sesakit ini patah hati itu?”
Malinda tak menyangka Alya akan menanyakan pertanyaan yang dulu pernah dia tanyakan pula pada dirinya sendiri. Untuk sekian detik dia diam, tak berusaha memberikan jawaban apapun. Karena yang dia pahami selama ini adalah patah hati itu sungguh amat menyakitkan bahkan setelah berlalu berpuluh-puluh tahun lamanya.
“Nek?”
“Ah iya.” Malinda tersadar dari lamunan masa lalunya. “ada apa, Sayang?”
“Aku sudah siap cerita semuanya ke Nenek.” Alya menghapus air matanya dan membetulkan posisi duduknya yang bersebelahan dengan Malinda.
“Minumlah dulu, Sayang.” Malinda menyodorkan segelas air putih pada Alya. Cepat-cepat diteguk air dalam gelas itu hingga hampir habis. Malinda tersenyum, mengambil gelas dari tangan Alya dan meletakkannya kembali di meja.
“Apa yang mau kamu ceritakan, Sayang?” tanya Malinda sambil mengelus punggung cucunya.
“Nek, aku jatuh cinta.”
Malinda tersenyum. “Dengan siapa? Ganteng nggak?”
Alya geli dengan pertanyaan neneknya, tak ayal membuat dia tersenyum pula. “Ganteng kok. Pintar pula,” jawabnya dengan tersipu.
“Lalu, apa yang diperbuat si ganteng sampai cucu Nenek ini bisa patah hati?” tanya Malinda dengan halus tapi tetap penuh selidik.
Mimik wajah Alya berubah seketika saat neneknya bertanya tentang patah hat iyang dialaminya sekarang. Dia mencoba tenang, tak lagi seemosi tadi. Tangis sudah tak lagi mewarnai ceritanya kali ini. Disampaikan semua yang ada dalam pikirannya, semua yang dia alami, semua yang terjadi, serta semua kemungkinan-kemungkinan yang menjadi momok tersendiri baginya. Tanpa jeda, tanpa ragu.
Malinda tak bisa menutupi kaget yang menyetrum sendi-sendi di tubuhnya. Cerita tentang cinta Alya, seolah menjadi pelengkap atas apa yang dia alami berpuluh-puluh tahun silam dalam keluarga yang dia bina dengan suaminya, Nanda. Perceraian yang dia kira menjadi jalan keluar atas kerumitan masalah rumah tangganya, ternyata malah menjadi bumerang bagi dirinya sekarang. Tuhan ternyata tak hanya mengujinya dulu kala, tetapi juga saat ini, di saat usianya sudah sangat senja.
“Nenek, aku harus bagaimana? Aku cinta sekali pada Rio, jangan sampai mereka menjadi satu.” Pertanyaan Alya membubarkan lamunan Malinda.
“Tapi aku pun tak ingin jadi anak durhaka. Aku pun mengerti bahwa Mama tak selamanya dia memilih untuk sendiri.”
Malinda diam, tak bisa menjawab. Mulutnya masih kelu, mengatur kalimat apa yang hendak dia sampaikan pada Alya. Keraguan muncul dalam benaknya untuk membantu masalah Alya karena dia sendiri butuh bantuan untuk menegarkan hatinya.
“Nek..”
“Ya Sayang? Maaf, Nenek nggak fokus.”
Alya menyadari perubahan mimik wajah neneknya. Ada sedikit ruang kosong dalam mata neneknya yang membawanya entah menuju kemana.
“Nenek tidak apa-apa?” Alya mulai khawatir dengan kondisi Malinda, mencoba mengalihkan sejenak masalahnya dan bertanya tentang kondisi neneknya.
“Ah tidak. Tidak apa-apa.” Malinda menjawab dengan terbata-bata dan senyum yang dipaksa. Tapi siang ini, dia harus berkonsentrasi pada masalah cucunya dan tak ingin masa lalu menguasai emosinya.
“Alya, ada baiknya kamu pulang dulu. Kasihan Mamamu. Tak baik perawan lama-lama di luar rumah, apalagi pergi tanpa ijin.”
“Tapi Nek..”
Malinda meremas jemari Alya dengan lembut. “Pulanglah. Baik-baiklah dengan Mamamu. Karena hanya kamu yang dia punya.”
Alya diam, tak bisa protes dengan perintah neneknya. Benar memang, tak pernah dia semarah ini pada mamanya karena mereka berdua selalu saling menguatkan. Karena mereka hanya berdua.
Alya diam. Beberapa saat kemudian dia mengambil tas yang dia jatuhkan sekenanya tadi. “Ya, lebih baik aku pulang,” ucapnya sebelum meninggalkan neneknya.
***
Malinda menekan sebuah nomor yang sudah lama tak dia hubungi, sejak hakim mengabulkan permohonan perceraiannya.
“Hadi, bisa bantu aku?”
“Masih ingat dengan Kinansih? Ya.. yang itu.”
Sebentar Malinda mengambil nafas sebelum mengungkap maksudnya.
“Oh iya, ya. Maaf, aku sedikit kalut sekarang,” ucap Malinda gagap. “Bisakah kamu mencarikanku informasi tentang Kinansih dan anaknya?”
“Apa saja, semuanya.”
Malinda tampak mengangguk-angguk. Lantas bersuara dengan gembira. “Ah, aku tahu umurmu memang sudah tak lagi muda. Tak apa kalau kamu limpahkan tugas ini pada anakmu.”
“Oke, kutunggu tak lebih dari lima hari.”
Dan Malinda mengakhiri teleponnya. Dia sunguh percaya, bahwa apapun infornasi yang nantinya dia dapat dari Hadi -atau mungkin dari anaknya Hadi- akan menjadi jalan keluar untuk masalah Alya.

(Cerfet #MFF1) : Gejolak Masing-Masing Hati

credit
CERITA SEBELUMNYA :
***
“Kamu panggil dia apa, Al? Mama?” tanya Dio pada Alya. Masih dengan rasa kaget yang luar biasa menghujam, dia menoleh pada Ratih. “Dia anakmu?”Alya dan Ratih sama-sama terdiam. Bertanya pada masing-masing hati yang tak mungkin memberikan jawaban pasti. Ketiganya bergejolak, namun saling keras berusaha menutupi tingkah yang semakin salah. Dari ketiganya, hanya Ratih yang tak memahami bahwa nyatanya ada benang kusut melingkari pinggang mereka bertiga dengan erat.

“Oh iya Dio, Alya ini anakku.” Ratih menjelaskan dengan masih menyungging senyum. Mengelus-elus lengan atas Alya. “Anakku satu-satunya. Anak kebanggaanku.”

Alya dan Dio saling pandang, tak lama. Kikuk.

“Alya ini baru mulai kuliah S2, lho. Lulus S1-nya barusan saja. Sebenarnya kusuruh magang dulu di tempatku, atau setidaknya kerja di mana gitu. Tapi dia ngotot pengen kuliah lagi. Ya sudah.”

Alya menoleh pada Ratih, memeluk pundaknya kemudian menciumnya. “Ma, udah ah. Malu sama pak Dio.” Alya pura-pura merajuk dan menggunakan kata ‘pak’ yang terasa mengganjal di lidahnya.

“Untuk apa malu, Sayang? Kalau nyatanya memang kamu seperti itu?”

Mendapat pertanyaan seperti itu dari Ratih di depan Dio, membuat Alya dongkol. Selama dirinya dekat dengan Dio, dia selalu berusaha untuk menjadi perempuan yang berani dan mandiri. Karena dia menyadari perbedaan umur di antara mereka haruslah terhubung oleh sikap yang tak kekanak-kanakan.

“Oh ya, kalian sudah saling kenal?” Ratih akhirnya bertanya pada Dio dan Alya. Menoleh bergantian pada kaduanya. Pertanyaan yang akhirnya muncul juga, tapi bukanlah pertanyaan yang harus ditunggu.

Alya salah tingkah, pun juga Dio. Wajah Alya nampak kegugupan, matanya berkedip-kedip, mulutnya membuka-menutup seolah hendak mengucapkan sesuatu namun bimbang.

“Ng, kami..” ucap Alya sambil menatap Dio sesaat.

“Beberapa kali Alya meminta perusahaanku untuk menjadi sponsor di kegiatan perkuliahannya. Dia perempuan yang menonjol, energik. Lebih menarik perhatian daripada teman-teman perempuannya. Haha..” Dio menjelaskan dengan diselingi candaan. Mencairkan suasana yang sebenarnya membeku namun tak ketara.

“Ya, Alya memang energik. Seperti Papanya,” ucap Ratih dengan senyum lebar. Alya ikut tersenyum, kemudian mengaitkan lengannya di pinggang Ratih dan menaruh kepalanya dipundaknya. Sedangkan Dio, hanya bisa memoles senyum seapik mungkin. Menutupi cemburu yang ternyata masih tersisa meskipun hatinya sudah beku karena cinta yang tak berjalan mulus.

“Ini lho Al, teman yang pernah Mama ceritakan dulu.” ucap Ratih tiba-tiba sambil mengerlingkan mata. Alya tersenyum, dibuat-buat. Karena sejak awal dia mengetahui bahwa laki-laki yang ada di buku harian mamanya adalah Dio, hatinya selalu gundah.

“Kalian pernah membicarakan aku?” tanya Dio, sambil memiringkan kepalanya saat melirik Ratih. Namun Ratih hanya tertawa ringan.

“Urusan wanita ya.” kilahnya. Kemudian Ratih dan Dio bersama tertawa, meskipun tak terbahak-bahak. Membuat cemburu muncul di pikiran Alya.

“Udah yuk Ma, berdiri di sini. Nggak seru tuh pestanya ditinggal.” Alya melepas pelukannya dan menarik Ratih menuju tengah ruangan. Dio mengikuti, namun tak lagi meletakkan lengannya di pinggang Ratih yang masih langsing meskipun wajahnya sudah nampak ada keriput.

Suasana pesta semakin semarak meskipun malam sudah semakin larut. Penampilan dari musisi jalanan dan sorakan pengunjung pesta, menambah riuhnya pesta dan membuat adrenalin meningkat. Beberapa orang mulai menggoyangkan tubuhnya dan tak mempedulikan peluh yang pelan-pelan meluncur dari tubuh bagian atas. Ratih menikmati malam ini. Selain disebelahnya berdiri laki-laki idaman hatinya, pun juga karena lama Ratih membentengi diri dari riuhnya dunia dan memilih menenggelamkan diri dalam berkas-berkas kasus para kliennya.

“Ma, aku ambilkan minum ya?” Alya menawarkan bantuan pada Ratih. Dia sebenarnya tak ingin berlama-lama di samping dua orang terdekat dalam hidupnya itu. Ada cemburu yang belum matang.

Alya sengaja tak mengambilkan cepat-cepat minum untuk Ratih. Yang ingin dilakukannya sekarang adalah memperhatikan mamanya dan Dio. Gestur tubuh keduanya yang sejenak kaku dan saling membatasi, sejenak lagi tarik-menarik namun masih malu. Tingkah mereka seperti dua kekasih yang lama tak bertemu namun tak segera mengurai kerinduan. Alya bukan anak kemarin sore yang tidak menyadari bahwa mamanya sedang bahagia berjumpa kembali dengan lelaki pengisi masa lalunya itu.

“Alya, kok bengong?”

Alya menoleh, Salsa -sahabat karibnya- sedang berdiri di samping seorang musisi jalanan yang tadi dia lihat tampil dengan memukul genderang.

“Hai Sa.”

“Keluar yuk. Bosan.” Salsa mengajak. Tak perlu waktu lama Alya menyetujui. Dirinya sekarang hanya ingin keluar dari hiruk pikuk pesta. Meninggalkan mamanya dan Dio dalam cengkrama kebahagiaan. Pula untuk menampik kesedihan yang merajam hatinya.

Sekitar lima menit kemudian Ratih menerima pesan singkat dari Alya.

Ma, aku balik duluan ya.

Dan sekitar sepuluh menit kemudian, Dio menerima pesan singkat dari Alya yang membuatnya kaget luar biasa.

Meskipun aku tahu mama adalah masa lalumu, tak akan kuserahkan kamu begitu saja padanya.

***
Tongkat estafetnya sekarang kuberikan pada Mbak Carra ya. DL 21 Oktober 2013 ^^

(Flash Fiction) MFF #29 : 27 Maret

credit
James memperhatikan ruangan di lantai bawah ini. Tidak terlalu luas, penuh dengan rak-rak buku berukuran besar yang tersusun rapi di sisi-sisi ruangan. Dan sebuah rak dengan tinggi sepinggang laki-laki dewasa yang terisi dengan buku-buku cerita anak-anak. Beberapa bukunya sudah tak rapi lagi, lecek di mana-mana karena seringnya dibaca oleh si pemilik toko. Disentuhnya rak yang sebenarnya masih tampak kokoh, namun sayangnya catnya sudah mulai mengelupas.

“Aku tak ingin mereka membongkar toko buku ini, James. Tempat ini terlalu berharga untuk kami,” kata Emely sambil menyentuh pundak nenek Jo.

“Tapi toko ini sepi pengunjung akhir-akhir ini, Emely.” James memperjelas situasi yang sedang dialami Emely dan nenek Jo saat ini. Emely sebenarnya membenarkan ucapan James, namun dalam hatinya tetap tak ingin toko buku ini pindah tangan.

“Semua karena mereka mendirikan toko buku yang lebih menarik,”kata Emely sambil memandang di seberang jalan. Di sana ramai, di sebuah toko buku besar yang lebih lengkap koleksinya dan sudah tiga minggu ini menggelar diskon sejak grand openingnya.

Nenek Jo berjalan menuju Emely, menyentuh punggungnya sejenak kemudian meninggalkan mereka berdua untuk mengurus buku-buku yang barutiba, yang hendak mereka jual hari ini. Emely memandang nenek Jo dengan pandangan sedih. Dia memahami perasaan nenek Jo jikalau toko buku ini akan benar-benar dirobohkan oleh para pengembang.

“Mungkin ada baiknya kamu menerima saran Julian,”ucap James dengan sangat hati-hati.

“Tidak! Tidak akan pernah!” tukas Emely kasar. Dia marah pada usulan James.

“Emely, tenanglah.” James menyentuh lengan Emely lembut. “Cobalah berfikir jernih sejenak. Hutang kalian pada bank akan bisa kalian tutup dengan cek dari Julian.”

“James, oh tidak! Aku masih belum bisa membayangkan bagaimana sakitnya kami kehilangan toko buku ini.” Emely mulai terisak.

“Tapi kalian bisa membuka toko buku baru di sana,” ucap James sambil menunjuk sebuah mall yang sedang dalam proses pembangunan.

“Dengan konsep toko buku seperti di mall yang juga belum tentu akan menyenangkan?”

“Kau terlalu menutup diri dengan perubahan, Emely.”

“Aku tak menutup diri, James! Hanya saja toko buku ini sudah jadi hidup kami.”
Bersamaan dengan Emely menghembuskan kalimatnya, James memasukkan tangannya ke saku celana. “Kapan batas pembayaran hutangmu?”

“27 Maret.”

“Dua minggu lagi,” batin James.

“Dan sebelum 27 Maret, aku akan usahakan apapun untuk menutup hutang itu.” Emely berucap sambil meninggalkan James di tengah toko, yang biasanya digunakan Emely untuk membaca dongeng bagi para pengunjung.

Saat keluar toko, ponsel di dalam jaket James berdering. Ada nama Julian tertera.

“Sedang kuusahakan. Tak mudah mengubah keputusannya. Beri aku waktu lagi.” James memohon tambahan waktu pada Julian.

“Persulit akses peminjaman Emely pada bank lain. Itu kuasamu, Julian. Akan kubuat dia menyetujui perjanjianmu.”

(Cerfet #MFF1) : Perkenalan

credit
 
Menceritakan kisahnya pada Alya -yang hanya sebagian kecil saja- sudah membuat kelegaan tersendiri bagi Ratih. Alya memang sudah waktunya mengetahui semua rahasia yang sengaja dia sembunyikan. Meskipun tanpa Ratih pinta, ternyata dimulainya lebih mudah. Tanpa perlu mendudukkan Alya dan memutar otak untuk mencari kalimat pertama yang pas sebagai pembuka.

Tapi tak sekarang semua harus diungkap, Nak.

Ratih memutuskan untuk kembali ke kamar, sebelumnya dia meminta Alya menyerahkan diari. Tak dipedulikan wajah Alya yang memucat, entah sebab apa. Yang diingin Ratih sekarang hanyalah sejenak merebahkan badannya yang tiba-tiba terasa lelah. Seolah sudah mengeluarkan sebagian amunisi rahasia pada musuh yang mengejarnya.

Dan Ratih sekarang hanya benar-benar merebahkan diri. Bola matanya menatap satu titik di atas plafon kamar. Melalui matanya, membuka kembali bilik rahasia yang kuncinya dia simpan dalam-dalam di brankas hatinya.

***

Ratih ingat, dia mengenal Dio saat dirinya sedang duduk sendiri di bangku panjang taman kota malam itu. Laki-laki bertubuh tinggi, tak terlalu gemuk dengan tulang pipi yang tampak sedikit menonjol. Yang saat itu sedang mengenakan kaos oblong biru tuayang dipadukan dengan celana denim berwarna biru -entahlah, sepertinya sudah tak lgi biru- dan sepatu kets yang warna hitamnya sudah pudar. Bagi sebagian orang, mungkin Dio tak menarik. Tapi Ratih tahu bahwa sejak pandangan pertama, dia sudah jatuh hati pada lesung pipi milik Dio! Alasan tidak relevan, mungkin begitu kata orang pintar.

“Mas nunggu orang?”Ratih memulai percakapan. Dio saat itu hanya menoleh, lalu tersenyum dan kembali menatap pandangan di depannya.

Ratih tersenyum, tipis saja. Tangannya mengeluarkan sebuah rokok merk lokal dan pematik dari dalam tas jinjingnya. Tak lama, asap putih sudah berlomba untuk keluar dari mulutnya. Disodorkannya rokok dan pematikkepada Dio namun Dio menolak dengan ramah.

“Ratih,”ucapnya kemudian untuk memperkenalkan diri. Laki-laki itu menoleh, menatap Ratih yang saat itu hanya menggunakan outfit sederhana. Kemeja lengan pendek warna baby pink dengan potongan yang pas di badannya yang langsing, yang dia padukan dengan celana jins biru tua.

“Dio,”

Dan perkenalan itu membuat hubungan mereka semakin dekat.

***


Dio adalah pribadi yang menyenangkan. Dia bukan tipe orang yang mudah marah pada orang lain. Malah seringnya membantu orang lain, tak hanya teman, membuat dia memiliki banyak teman yang menghargainya.

Pun juga pada Ratih yang ternyata membutuhkan pertolongan di balik wajahnya yang tampak ceria. Yang tanpa Ratih sadari, Dio mampu sedikit demi sedikit memberinya solusi dan tak jarang Ratih mau melaksanakannya.Bagi Ratih, Dio adalah seseorang yang baru dikenalnya namun tak segan dia menceritakan masalah-masalah pribadinya.

Hubungan Ratih dan keluarganya hancur sudah, semenjak Ratih memasuki bangku SMA. Semenjak Ratih tanpa sengaja mengetahui bahwa papanya memiliki hubungan dengan wanita selain ibunya. Papanya tak mau mengakui kenyataan yang dilihat Ratih, awalnya. Namun melalui sikap papanya terhadap mamanya yang kian hari kian acuh, membuat Ratih menyadari bahwa keluarganya sebenarnya membutuhkan pertolongan ‘orang baik’. Bagaimana pun, pendapat seorang anak sering kali menjadi pendapat yang dianggap tak perlu didengar. Papanya semakin sering pulang malam atau bahkan tak pulang berhari-hari dengan alasan dinas luar kota sedangkan ibunya semakin sibuk dengan arisan-arisan yang sebenarnya malah menghambur-hamburkan uang. Keduanya sibuk mencari kebahagiaan masing-masing. Melupakan Ratih dan adiknya, Puspita,yang memiliki umur selisih empat tahun dengannya.

Dan Ratih lah yang nyatanya semakin terpuruk. Tak seperti Puspita yang selalu menganggap bahwa masalah keluarganya ini pastilah memilki ujung baik. Pemikiran seperti itu membuat Puspita tetap mampu berkonsentrasi di sekolahnya. Alih-Alih memiliki pemikiran seperti Puspita, Ratih malah sering menunjukkan pertentangan pada keluarganya, tidak pernah terima dengan perselingkuhan papanya dan mamanya yang kian hari kian larut pula pulangnya. Sikap itu, ditunjukkan dengan jelas-jelas pada keluarganya. Membolos sekolah, memiliki teman yang tak baik, merokok, bahkan beberapa kali mencoba minuman keras.

Banyak usaha dilakukan keluarga Ratih untuk mengembalikan kondisi Ratih seperti dulu, namun gagal. Karena Ratih menutup diri. Selalu berprasangka bahwa usaha yang dilakukan orangtuanya hanyalah sementara saja. Hingga saat Ratih memutuskan untuk kuliah di Semarang, supaya jauh dengan keluarganya, dan bertemu Dio malam itu.

“Ceritakan padaku, jika itu membuatmu lega,” ucap Dio suatu malam saat Ratih datang kekosnya dengan kondisi yang jauh dari yang dinamakan sopan.

Saat itu Ratih seolah tak mampu lagi berlari dan menyerah sudah pada pundak Dio untuk melegakan diri. Menangisi segala hal buruk dalam kehidupannya beberapa tahun ini.

Malam itu Dio tak menghakimi, tak memberinya solusi, hanya memberinya secangkir teh hangat dan mendengarkan isi hati Ratih. Hanya itu. Namun Ratih lega luar biasa.

“Datanglah padaku lagi jika itu membuatmu lega.”

Itu adalah kalimat penutup dari Dio malam itu. Yang menjadi perekat hatinya yang sudah rapuh.