Category Archives: Monday Flash Fiction

[Flash Fiction] MFF #47 : Cerita Ranu pada Suatu Sore

Gambar

“Cinta itu candu, Lena.”

Aku diam saja, tetap menyesap cola dingin, saat Ranu mengatakannya dengan memandang sebuah wajah berdagu lancip di ponsel. “Aku bahkan ingin menjadikanya istriku,” kata Ranu setelah meletakkan punggung di sandaran kursi kayu.

“Sampai seperti itu?” tanyaku tanpa menoleh padanya. Dan aku tahu, Ranu mengangguk.

“Lalu Kayla?” tanyaku kembali, masih dengan menyesap cola. Kali ini sedikit sesapan saja. Cola yang biasanya tak pernah luput dari saku tasku, kini seperti tak memiliki pesona untuk kuteguk. Seolah tak lagi membuatku candu.

Continue reading

Advertisements

[Flash Fiction] MFF #44 :Tempat Perpindahan

Gambar

Malinda mempercepat larinya. Matahari sudah hampir berada di atas kepala saat dia keluar dari gerbang istana Lokmeld. Tengah hari adalah waktunya untuk kembali ke Rossmerland dan pintu Perpindahan hanya memberinya kesempatan selama tiga menit.

Ujung bawah gaun sifon berwarna kuning yang dikenakannya, sudah terlihat kotor. Mungkin karena dia hanya memakai alas kaki datar yang bergesekan dengan tanah lembek di hutan. Malinda merasakan sedikit perih di kakinya, mungkin karena perdu berduri, tapi dia abaikan. Nafasnya yang tersengal-sengal, akhirnya memaksanya untuk sebentar saja berhenti di bawah pohon dengan dahan yang penuh dengan uliran benalu.

Sebentar lagi sampai!

Setelah men

Continue reading

[Flash Fiction] MFF #40 : Ketakutan Terbesar

images“Ayolah Lusi … Sampai kapan kamu akan mengurung diri?” Rika bertanya. Aku bergeming. Semakin erat guling yang kupeluk, sambil sesekali kuusap-usap kedua telapak tanganku di paha.

“Kemana Lusi yang dulu bersemangat dan bisa mengatasi masalah terbesarmu itu?” Rika kembali bertanya dengan badan yang dicondongkan ke arahku. Cepat-cepat kumundurkan punggung beberapa senti meskipun sebenarnya tak ada lagi jarak antara punggungku dan tembok. Jantungku mulai berdebar kencang dan jemariku bergetar, tapi kusembunyikan dengan saling mengaitkannya.
Continue reading

[Flash Fiction] MFF #39 : Bakso Amanah

GambarSemoga ini cukup. Kupandangi bakso yang ada di dalam panci. Segera aku mengambil wadah dan mulai menghitung.

1, 2,  … 128, 129. Kuhentikan hitunganku. Jamaah pengajian ada 25 orang. Kalau masing-masing diisi lima bakso, berarti harusnya 125. Wah! Sisa empat. Bisa kuberikan Riris.

Aku tersenyum lega karena Riris yang masih empat tahun sudah memiliki lauk untuk besok. Tapi saat hendak beranjak, kulihat Damar yang berdiri di ambang pintu.

Ya Tuhan! Aku lupa Damar! Makan apa dia besok?

Continue reading

25 Januari

Sudah pukul delapan! Sial! Aku kesiangan!

Bergegas aku mengambil sikat gigi dan menyikat gigiku dengan sangat cepat. Lalu membasuh wajahku dengan air kran yang dingin, mengeringkannya dengan handuk. Hanya perlu waktu beberapa menit saja untuk aku memakai baju berwarna biru langit berbahan sifon dengan hiasan pita di dada sebelah kanan. Dan kusempurnakan dengan rok pendek berwarna hitam.

Yup! Sudah rapi. Siap berangkat!
Continue reading

(Cerfet #MFF1) : Bumerang Masa Lalu

credit
 
**
Alya melajukan mobilnya dengan kencang, tak peduli dengan kondisi jalan yang tak sepi. Yang ada dipikirannya sekarang adalah menceritakan segala gelisah yang tertoreh di ruang hatinya kepada neneknya. Nenek Malinda. Hanya pada Malinda dia bisa terbuka, hanya pada Malinda dia menceritakan segala rahasia yang dia punya. Malinda adalah sosok pelindung yang bijak, disiplin dan terbuka. Sesibuk apapun dia dengan usaha konveksinya, Malinda selalu memiliki waktu untuk Alya.
Setelah Alya memarkirkan mobilnya, bergegas dia menuju dalam rumah dengan setengah berlari. Tanpa salam, tanpa sapaan, dia langsung memeluk Malinda yang sedari tadi menanti di sofa panjang di ruang tamu. Air matanya berlomba turun ke pipi, badannya lunglai benar karena hati yang terlalu patah oleh cinta. Malinda tak bertanya ada apa dengan cucu perempuan satu-satunya ini. Yang dia lakukan hanyalah menunggu Alya menceritakan keluh kesahnya.
“Nek, apakah sesakit ini patah hati itu?”
Malinda tak menyangka Alya akan menanyakan pertanyaan yang dulu pernah dia tanyakan pula pada dirinya sendiri. Untuk sekian detik dia diam, tak berusaha memberikan jawaban apapun. Karena yang dia pahami selama ini adalah patah hati itu sungguh amat menyakitkan bahkan setelah berlalu berpuluh-puluh tahun lamanya.
“Nek?”
“Ah iya.” Malinda tersadar dari lamunan masa lalunya. “ada apa, Sayang?”
“Aku sudah siap cerita semuanya ke Nenek.” Alya menghapus air matanya dan membetulkan posisi duduknya yang bersebelahan dengan Malinda.
“Minumlah dulu, Sayang.” Malinda menyodorkan segelas air putih pada Alya. Cepat-cepat diteguk air dalam gelas itu hingga hampir habis. Malinda tersenyum, mengambil gelas dari tangan Alya dan meletakkannya kembali di meja.
“Apa yang mau kamu ceritakan, Sayang?” tanya Malinda sambil mengelus punggung cucunya.
“Nek, aku jatuh cinta.”
Malinda tersenyum. “Dengan siapa? Ganteng nggak?”
Alya geli dengan pertanyaan neneknya, tak ayal membuat dia tersenyum pula. “Ganteng kok. Pintar pula,” jawabnya dengan tersipu.
“Lalu, apa yang diperbuat si ganteng sampai cucu Nenek ini bisa patah hati?” tanya Malinda dengan halus tapi tetap penuh selidik.
Mimik wajah Alya berubah seketika saat neneknya bertanya tentang patah hat iyang dialaminya sekarang. Dia mencoba tenang, tak lagi seemosi tadi. Tangis sudah tak lagi mewarnai ceritanya kali ini. Disampaikan semua yang ada dalam pikirannya, semua yang dia alami, semua yang terjadi, serta semua kemungkinan-kemungkinan yang menjadi momok tersendiri baginya. Tanpa jeda, tanpa ragu.
Malinda tak bisa menutupi kaget yang menyetrum sendi-sendi di tubuhnya. Cerita tentang cinta Alya, seolah menjadi pelengkap atas apa yang dia alami berpuluh-puluh tahun silam dalam keluarga yang dia bina dengan suaminya, Nanda. Perceraian yang dia kira menjadi jalan keluar atas kerumitan masalah rumah tangganya, ternyata malah menjadi bumerang bagi dirinya sekarang. Tuhan ternyata tak hanya mengujinya dulu kala, tetapi juga saat ini, di saat usianya sudah sangat senja.
“Nenek, aku harus bagaimana? Aku cinta sekali pada Rio, jangan sampai mereka menjadi satu.” Pertanyaan Alya membubarkan lamunan Malinda.
“Tapi aku pun tak ingin jadi anak durhaka. Aku pun mengerti bahwa Mama tak selamanya dia memilih untuk sendiri.”
Malinda diam, tak bisa menjawab. Mulutnya masih kelu, mengatur kalimat apa yang hendak dia sampaikan pada Alya. Keraguan muncul dalam benaknya untuk membantu masalah Alya karena dia sendiri butuh bantuan untuk menegarkan hatinya.
“Nek..”
“Ya Sayang? Maaf, Nenek nggak fokus.”
Alya menyadari perubahan mimik wajah neneknya. Ada sedikit ruang kosong dalam mata neneknya yang membawanya entah menuju kemana.
“Nenek tidak apa-apa?” Alya mulai khawatir dengan kondisi Malinda, mencoba mengalihkan sejenak masalahnya dan bertanya tentang kondisi neneknya.
“Ah tidak. Tidak apa-apa.” Malinda menjawab dengan terbata-bata dan senyum yang dipaksa. Tapi siang ini, dia harus berkonsentrasi pada masalah cucunya dan tak ingin masa lalu menguasai emosinya.
“Alya, ada baiknya kamu pulang dulu. Kasihan Mamamu. Tak baik perawan lama-lama di luar rumah, apalagi pergi tanpa ijin.”
“Tapi Nek..”
Malinda meremas jemari Alya dengan lembut. “Pulanglah. Baik-baiklah dengan Mamamu. Karena hanya kamu yang dia punya.”
Alya diam, tak bisa protes dengan perintah neneknya. Benar memang, tak pernah dia semarah ini pada mamanya karena mereka berdua selalu saling menguatkan. Karena mereka hanya berdua.
Alya diam. Beberapa saat kemudian dia mengambil tas yang dia jatuhkan sekenanya tadi. “Ya, lebih baik aku pulang,” ucapnya sebelum meninggalkan neneknya.
***
Malinda menekan sebuah nomor yang sudah lama tak dia hubungi, sejak hakim mengabulkan permohonan perceraiannya.
“Hadi, bisa bantu aku?”
“Masih ingat dengan Kinansih? Ya.. yang itu.”
Sebentar Malinda mengambil nafas sebelum mengungkap maksudnya.
“Oh iya, ya. Maaf, aku sedikit kalut sekarang,” ucap Malinda gagap. “Bisakah kamu mencarikanku informasi tentang Kinansih dan anaknya?”
“Apa saja, semuanya.”
Malinda tampak mengangguk-angguk. Lantas bersuara dengan gembira. “Ah, aku tahu umurmu memang sudah tak lagi muda. Tak apa kalau kamu limpahkan tugas ini pada anakmu.”
“Oke, kutunggu tak lebih dari lima hari.”
Dan Malinda mengakhiri teleponnya. Dia sunguh percaya, bahwa apapun infornasi yang nantinya dia dapat dari Hadi -atau mungkin dari anaknya Hadi- akan menjadi jalan keluar untuk masalah Alya.

(Flash Fiction) MFF #29 : 27 Maret

credit
James memperhatikan ruangan di lantai bawah ini. Tidak terlalu luas, penuh dengan rak-rak buku berukuran besar yang tersusun rapi di sisi-sisi ruangan. Dan sebuah rak dengan tinggi sepinggang laki-laki dewasa yang terisi dengan buku-buku cerita anak-anak. Beberapa bukunya sudah tak rapi lagi, lecek di mana-mana karena seringnya dibaca oleh si pemilik toko. Disentuhnya rak yang sebenarnya masih tampak kokoh, namun sayangnya catnya sudah mulai mengelupas.

“Aku tak ingin mereka membongkar toko buku ini, James. Tempat ini terlalu berharga untuk kami,” kata Emely sambil menyentuh pundak nenek Jo.

“Tapi toko ini sepi pengunjung akhir-akhir ini, Emely.” James memperjelas situasi yang sedang dialami Emely dan nenek Jo saat ini. Emely sebenarnya membenarkan ucapan James, namun dalam hatinya tetap tak ingin toko buku ini pindah tangan.

“Semua karena mereka mendirikan toko buku yang lebih menarik,”kata Emely sambil memandang di seberang jalan. Di sana ramai, di sebuah toko buku besar yang lebih lengkap koleksinya dan sudah tiga minggu ini menggelar diskon sejak grand openingnya.

Nenek Jo berjalan menuju Emely, menyentuh punggungnya sejenak kemudian meninggalkan mereka berdua untuk mengurus buku-buku yang barutiba, yang hendak mereka jual hari ini. Emely memandang nenek Jo dengan pandangan sedih. Dia memahami perasaan nenek Jo jikalau toko buku ini akan benar-benar dirobohkan oleh para pengembang.

“Mungkin ada baiknya kamu menerima saran Julian,”ucap James dengan sangat hati-hati.

“Tidak! Tidak akan pernah!” tukas Emely kasar. Dia marah pada usulan James.

“Emely, tenanglah.” James menyentuh lengan Emely lembut. “Cobalah berfikir jernih sejenak. Hutang kalian pada bank akan bisa kalian tutup dengan cek dari Julian.”

“James, oh tidak! Aku masih belum bisa membayangkan bagaimana sakitnya kami kehilangan toko buku ini.” Emely mulai terisak.

“Tapi kalian bisa membuka toko buku baru di sana,” ucap James sambil menunjuk sebuah mall yang sedang dalam proses pembangunan.

“Dengan konsep toko buku seperti di mall yang juga belum tentu akan menyenangkan?”

“Kau terlalu menutup diri dengan perubahan, Emely.”

“Aku tak menutup diri, James! Hanya saja toko buku ini sudah jadi hidup kami.”
Bersamaan dengan Emely menghembuskan kalimatnya, James memasukkan tangannya ke saku celana. “Kapan batas pembayaran hutangmu?”

“27 Maret.”

“Dua minggu lagi,” batin James.

“Dan sebelum 27 Maret, aku akan usahakan apapun untuk menutup hutang itu.” Emely berucap sambil meninggalkan James di tengah toko, yang biasanya digunakan Emely untuk membaca dongeng bagi para pengunjung.

Saat keluar toko, ponsel di dalam jaket James berdering. Ada nama Julian tertera.

“Sedang kuusahakan. Tak mudah mengubah keputusannya. Beri aku waktu lagi.” James memohon tambahan waktu pada Julian.

“Persulit akses peminjaman Emely pada bank lain. Itu kuasamu, Julian. Akan kubuat dia menyetujui perjanjianmu.”