Category Archives: Berani Cerita

Inventaris Itu …

credit
Ruangan ini terasa panas, ah, mungkin lebih tepat terasa sesak. Berkumpul kami para kaki tangan pak Suroto, yang saling berhimpitan duduknya karena kursinya sedikit. Dari kedelapan orang yang hadir, hanya aku dan bu Dini yang merupakan penanggung jawab laboratorium. Aku memegang laboratorium komputer, dan bu Dini sebagai laboran IPA.

Beberapa menit kemudian, pak Suroto meletakkan beberapa map di atas meja. “Itu adalah apa-apa yang harus kita rinci jumlahnya.”

Kami diam, tak berani berucap atau mengambil map-map itu untuk melhat isinya. Takut pada pak Suroto, takut ditegur lancang jika tanpa ijinnya srudak-sruduk mengangkat map itu.

“Silahkan dibagikan mapnya sesuai masing-masing tugas. Kita harus rinci sekali untuk tugas kali ini. Kepala sekolah yang baru tentunya tidak mau ada yang tak terhitung dari inventaris yang kita miliki sekarang.”

Kami manggut-manggut, mencoba mengerti. Aku tersenyum saja, penghitungan inventaris di laboratorium komputer sudah diselesaikan oleh bu Hana beberapa hari yang lalu. Aku tinggal menyalin saja isinya.

Namun,

“Pak Didik…”panggil pak Suroto saat akan mengakhiri pertemuan. Aku menoleh, menatapnya.

“Data juga komputer dan perlengkapannya yang sudah tak kita pakai karena ada sumbangan dari Diknas. Sekalian yang sudah rusak. Itu juga masih termasuk inventaris kita.”

Aku terkesiap. Tubuhku mendadak gemetar, ototku tak mampu menjawab apapun.

“Disimpan di gudang, kan?”

“I..i..iya, Pak. Di gudang dekat kamar mandi siswa putri.”jawabku gemetar. Bu Dini melihat kegugupanku. Bola matanya sedikit mendelik, mengisyaratkan aku harus menenangkan diri.

“Saya tunggu laporannya tiga hari lagi. Terima kasih.”pinta pak Suroto disambung dengan menutup pertemuan.

Tapi gemetar di tubuhku tak bisa kuakhiri.

**

“Kalau orang lain tahu?”Tanyaku pada bu Dini. Gudang ini sepi, hanya ada kami berdua. Memandang ruangan yang sudah tak banyak barangnya.

“Ah, yang tahu hanya Paimin. Kita bisa belikan dia rokok untuk tutup mulut.” ucap bu Dini sambil menghampiriku. Kemudian duduk di sebelahku, di atas meja belajar siswa yang sudah mulai reyot. Tangannya menggelayut manja di pinggangku, membuat tubuhku berdesir. Semakin berdesir, pikiranku semakin rileks.

“Sudahlah Sayang, jangan terlalu dipikirkan.”bisik bu Dini sambil mencium leherku. Aku memejamkan mata, mendesah.

Tapi tak bisa kupungkiri, aku masih tetap khawatir. “Tapi, komputer-komputer itu sudah kita jual, Sayang.”

Bu Dini berhenti menciumi leherku. “Lalu?” tanyanya.

“Bagaimana jika Suroto menanyakan wujudnya? Aku menunjukkan komputer yang mana coba?”

Bu Dini terkekeh pelan tapi tak lama. Mungkin karena melihat wajahku yang terlampau serius.Kemudian dia meletakkan tangannya di wajahku.

“Sayang, jangan lupa, Suroto satu bulan lagi sudah pensiun. Banyak yang dia urus, tak akan sempat dia memintamu menunjukkan komputer-komputer itu.”

Aku diam, mencoba membenarkan ucapan bu Dini. Tapi kemudian muncul pertanyaan baru di otakku.

“Oke, Suroto beres. Kepala sekolah yang baru?” tanyaku sambil menatap wajah bu Dini yang masih cantik meskipun usianya lebih tua enam tahun daripadaku.

“Ah, itu bisa kita urus nanti.”jawabnya sambil memagut bibirku.

Advertisements

(Flash Fiction) Berani Cerita #12 : Sepatu Butut Arif

credit

Arif memandang sepatu kets merah ditangannya untuk kesekian kalinya. Sepatu itu tidak bagus, bahkan lubang sudah jadi hiasan paling menarik di beberapa bagian. Namun, sepatu itulah yang tiap hari menjadi teman yang tak pernah mengeluh saat dia menjual koran di perempatan dekat Gedung Nasional Indonesia, di kotanya.

Dia menghembuskan nafas, mencoba terus memupuk ikhlas saat bu Yitno menanyainya kembali apa dia benar-benar mau meloakkan sepatunya.

“Iya deh Bu, jadi. Tapi kasih harga tinggi ya,” jawab Arif sambil memohon sepatunya layak mendapatkan harga tinggi, mengingat kesetiaan dia selama ini.

Wes jebol kabeh ngunu,” ucap bu Yitno saat menoleh sebentar ke arah sepatu Arif. Jawaban bu Yitno membuat Arif kecewa. Apa sih yang bisa diharapkan dari sepatu yang sudah penuh lubang? Dia membenarkan jawaban bu Yitno dalam hati.

“Yo wes, lima ribu ae.”

“Tujuh ribu yo, Bu.” Arif mencoba menawar. Wanita paruh baya didepannya ini terkenal perhitungan. Cacat di barang sekecil apapun akan jadi hitungan buat dia. Setelah menawar, Arif memandang bu Yitno dengan wajah dibuat seolah memelas.

“Enam ribu lima ratus, ae,” Bu Yitno mengeluarkan uang dari laci mejanya dan melemparnya pelan di depan Arif. “Nek ora gelem, yo wes,” ucapnya sambil menoleh ke arah lain tapi matanya melirik ke arah Arif.

Tanpa pikir panjang, Arif mengambil uang yang sudah tak rapi lagi bentuknya. Sambil bersyukur dalam hati, ditaruhnya sepatu ketsnya di atas meja.

“Makasih, Bu.” Arif tersenyum kemudian cepat-cepat keluar dari rumah bu Yitno yang penuh dengan barang-barang loak.

Hati Arif gembira, setidaknya untuk bulan ini. Ada lega di hatinya untuk menambah biaya pembelian obat darah tinggi untuk ibunya yang harus rutin dibeli tiap bulan. Teringat lagi perkataan apoteker beberapa hari yang lalu.

“Maaf Dek, uangnya enggak cukup. Harga obatnya naik.”

**
Keterangan :
1. Wes jebol kabeh ngunu : Sudah lubang semua, gitu.
2.
Nek ora gelem, yo wes : Kalau tidak mau, ya sudah.



Yuk, ikutan tantangan membuat flash fiction. silahkan cek infonya di sini ya ^_^

(Flash Fiction) Berani Cerita #09 : Gosip

credit

“Kemarin aku lihat, suaminya jalan sendiri tuh di mall. Sepertinya lagi jalan-jalan sendiri, enggak sama si Mimi. Apa janjian sama perempuan lain seperti katamu, Mbakyu?”

“Mungkin dek Las. Soalnya aku sama suamiku pernah ketemu suaminya si Mimi jalan sama perempuan cantik. Waktu aku tanya ke Mimi, dia bilang kalau itu sekretarisnya. Tapi kalau sekretaris, masa jalan-jalannya di mall?” Ucap wanita gemuk yang dipanggil dengan sebutan ‘Mbakyu’ oleh wanita kurus tirus bernama Lasmini. Nama wanita gemuk itu Keni.

“Kamu kemarin juga ketemu Mimi jalan sama laki-laki yang tubuhnya gemuk kan?” Tanya Keni ke wanita lain berbaju daster tanpa lengan yang bernama Ana. Sambil memainkan poni rambut, Ana mengangguk.

“Hm, jangan-jangan Mimi sama suaminya hubungannya lagi enggak akur?” Lasmini menebak yang disusul dengan anggukan penuh semangat milik Keni. Tapi tebakan itu ditebas seketika oleh Ana.

“Kalau lagi ada masalah, kenapa coba si Mimi dibelikan mobil baru sama suaminya? Belum lagi, mereka sekeluarga kemarin baru saja jalan-jalan ke Bali.”

“Jalan-jalan kan bisa jadi alibi buat senangin hatinya Mimi dan anak-anaknya saja. Biar suaminya enggak dicurigain lagi selingkuh.” Keni menyampaikan pendapatnya, sambil menggoyangkan kipasnya. Ucapan Keni diberi anggukan kuat oleh Lasmini, yang juga menimpali dengan berita-berita lainnya yang belum tentu benar atau tidak.

*

Mimi terdiam di balik pintu pagarnya yang bentuknya bisa menyembunyikan tubuhnya yang kurus pendek dari pandangan ketiga tetangganya. Hendak membuang sampah, dia batalkan saat mendengar gosip para tetangganya tentang dirinya dan suaminya. Telinganya panas. Dibuka pintu pagar rumahnya dan dihampiri para tetangganya yang sikapnya sudah salah tingkah.

“Maaf, gosip kalian salah.” Mimi berucap dengan menahan banyak kesal.



“Suamiku pergi ke mall dengan sekretarisnya, untuk belikan aku gaun sebagai hadiah ulang tahun. Dan kalian tahu? Pria gemuk itu adalah adik ibuku yang tak sengaja kami bertemu waktu di makam ibu. Mobil? Liburan ke Bali? Itu sekedar foya-foya kami untuk merayakan keberhasilan suamiku naik jabatan.”

Para tetangga terdiam. Malu.
____


Kalau mau baca milik peserta lain di http://www.beranicerita.com minggu kesembilan, baca di sini yah.

(Flash Fiction) Masa Lalu

Tak perlu waktu lama, Rino akhirnya sampai di rumah bergaya Jawa kuno yang cukup besar. Halamannya luas dengan beberapa pohon beringin. Tampaknya rumah ini adalah rumah turun-temurun.

Tok. Tok! Rino mengetuk pintu.

Tak lama pintu dibuka. Rino terkejut melihat sosok yang berada dihadapannya. 

Meskipun yang berada di depannya adalah si pemilik rumah, Kisha, namun Rino tetap tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. Jantungnya terlalu berdetak kencang karena ada tujuan yang tak biasa kali ini.

“Rino? Bukannya Chintya tidak ada jadwal latihan piano hari ini?”

Rino terdiam sekitar beberapa detik, sebelum akhirnya Kisha mempersilahkannya masuk. Rino duduk di bagian sofa yang biasa dia duduki setiap Rabu dan Jumat untuk menunggu Chintya keluar dari kamarnya.

“Ng, anu Kisha, aku..”

Kisha memincingkan matanya, mencoba mendengarkan kalimat yang belum keluar dari mulut Rino.

“Aku.. Aku ingin..”

Rino belum menyelesaikan kalimatnya saat Chintya datang menghampiri dia dan ibunya. Ditangannya ada segelas sirup choco pandan.

“Pak Rino ada apa pagi-pagi sudah di sini? Apa jadwal latihanku dimajukan jadi hari ini?”

Rino tidak menjawab, hanya tatapannya berganti arah dari Chintya ke ibunya. Kisha melihat ada gelagat aneh dari gestur Rino saat dia melihat Chintya tiba-tiba menghampiri mereka. Tidak seperti Rino yang biasanya lebih santai saat menghadapi seseorang.

“Chintya, masuk kamar dulu. Ibu mau bicara sama pak Rino.”

Sebenarnya Chintya ingin ikut mendengarkan perbincangan ibunya dengan guru pianonya itu. Tapi melihat tatapan ibunya yang tajam, dia memilih meninggalkan mereka.

Setelah yakin Chintya tidak ada, Kisha melanjutkan perbincangannya yang terpotong tadi. “Ada apa? Sepertinya ada yang mau kamu sampaikan.”

“Kisha, aku ingin Chintya.”

Kisha tersontak. “Tapi kita sudah bicarakan ini bertahun-tahun yang lalu, Rino.”

“Tapi aku sangat inginkan dia, Kisha. Sungguh.” Kali ini wajah Rino memelas. Wibawanya sebagai pria dia simpan supaya Kisha mau mengabulkan keinginannya.

Wajah Kisha sekarang terlihat marah. “Tidak Rino! Aku tidak sanggup kehilangan Chintya. Tidak!”

“Tapi aku pun juga bagian dari dirinya, Kisha. Sadarilah itu!”

“Iya, aku sadar itu! Tapi aku tidak mau kehilangan anakku satu-satunya!”

Nafas Kisha terburu-buru, berkejaran dengan nada suaranya yang tinggi. “Kita sudah sepakat kalau kamu tidak akan mengambil Chintya dariku, Rino! Kita juga sudah sepakat bahwa itu adalah kesalahan masa lalu yang harus kita lupakan!”

Rino terdiam sejenak, mengambil nafas dalam.

“Tapi dia adalah anakku, Kisha. Anak kita.” Ucap Rino dengan nada yang dia rendahkan. Kakinya melangkah mendekati Kisha, memegang wajahnya dengan lembut.

“Kita tak mungkin terus merahasiakan ini, Sayang.”

***

Tangan Chintya gemetar hebat, membuat sirup yang ada di dalam gelas tumpah ke lantai.

Dia terduduk lemas di depan kamarnya. Mencoba menerima rahasia baru bahwa bapak kandungnya bukanlah yang sekarang sedang berlayar mengelilingi Eropa. Namun Rino.


***

Ayo, ikutan tantangan mingguan membuat flash fiction di beranicerita yah 🙂


(Flash Fiction) Bisnis Bos

credit

“Oke, oke, saya cek nanti.”

“Ah, enggak usah terlalu dipikirkan. Asal mulus saja ke depannya, saya oke oke saja kok.”

“Baiklah. Saya juga ucapkan terima kasih.”

Tut. Kemudian handphone diletakkan di atas meja.

“Sudah ditransfer, Bos.”

“Jumlahnya?”

“Sesuai dengan perjanjian, Bos.”

“Bagus. Ambil lima persennya buat kamu.”

“Terima kasih, Bos.”

Keduanya diam. Hanya terdengar suara kriet dari kursi putar yang diduduki si bos.

“Kamu percaya dengan keindahan saling membantu, Man?”

“Percaya, Bos.”

“Apalagi aku, Man. Sangat percaya. Bapakku yang mengajarkan sejak kecil tentang membantu orang lain.”

Yang dipanggil Man, masih terdiam.

“Bapakku juga yang mengajarkan bagaimana cara-caranya. Dia teliti sekali menjelaskannya. Aku sering tahu, bapakku mampu merinci setiap langkah.”

“Ohya, bahkan bapakku ketika membantu orang lain, selalu menuliskan detailnya dengan rinci di agendanya. Jumlahnya pun dia rinci.”

“Wow, Bos sampai tahu sejelas itu?”

“Bapakku yang memberitahu. Dan mengajariku lho, Man.”

“Pantas saja, Bos lihai dan jeli menyelesaikan semua order.”

Si bos tertawa. Lalu sunyi kembali.

“Tapi bapakku tidak mujur.”

“Ya, mati di penjara.”

“Dan Anda yang melanjutkan bisnis bapak Anda.”

“Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Istilah itu bener lho, Man. Hahaha..”

Si bos kembali diam setelah tertawa. Man juga ikut diam.

“Bapakku yang memulai bisnis pemalsuan ijasah. Aku yang melebarkan sayap bisnisnya ke arah lain.”

“Anda enggak takut nantinya seperti bapak Anda? Berakhir di penjara?”

“Ah Man, jalani saja sekarang. Urusan besok masuk penjara atau enggak, bisa diatur dengan uang.”

“Aku ini niatnya bantu orang, Man.”

Si bos kembali tertawa. Tapi si Man masih diam.
_______

Ayo, ikutan challenge bikin flash fiction di tiap minggunya di beranicerita yah ^_^

[Berani Cerita #1] Rumah Tua Di Ujung Gang


Sesaat ketika aku akan melangkah keluar dari rumah tua yang sangat menyeramkan ini, aku mendengar suara derik dari pintu yang terbuka. Aku menoleh. Berusaha mengamati dalam kegelapan dengan memincingkan mataku untuk memastikan paklek Man ada di sana.

Tapi tak kulihat ada siapa-siapa di sana.

Dengan ragu, kuputuskan untuk memeriksa saja siapa yang membuka pintu kamar itu, yang lokasinya berdekatan dengan ruang makan. Syukur-syukur kalau pintu tadi terkena angin atau yang menggerakkan pintu itu benar-benar adalah paklek Man. Senter yang kupegang, mulai redup pelan-pelan karena, payahnya, aku lupa mengganti baterainya sebelum melakukan petualangan menyeramkan ini bersama paklek Man.


Kubiarkan saja senter itu mulai berkedip-kedip lalu benar-benar mati. Sekarang aku berjalan hanya dengan diterangi lampu yang terpasang di luar rumah, yang cahayanya masih tetap seredup senterku tadi. Kutarik nafas dalam, kemudian melanjutkan mencari paklek Man. Setelah jarak antara aku dan pintu itu sekitar satu meter, aku mulai berjalan dengan langkah sangat pelan sambil berbisik berulang-ulang memanggil nama paklek Man.

Aku pikir, aku akan merasa sangat ketakutan saat kulihat tak ada siapa pun di balik pintu. Hingga akhirnya aku melihat seseorang yang sedang jongkok di bawah meja rias dengan wajah disembunyikan diantara kedua lututnya. Kudekati dia dengan langkah cepat dan menepuk pundaknya.

_____

Untuk membaca lanjutannya, silahkan klik di sini ^_^