Category Archives: Fiksi Pendek

[Pria Kopi – 3] Berbagi

Gambar

Motor yang kamu lajukan, sekarang sudah hampir sampai di Taman Balai Kota. Setelah mendapatkan tempat untuk memarkirkan motor, kita menuju tengah taman dengan langkah yang tidak tergesa-gesa. Sebenarnya, aku tak terlalu suka di Taman Balai Kota. Karena tak ada satu pun pohon yang bisa dijadikan untuk tempat berteduh. Meskipun pemerintah kota sudah sangat bersusah payah untuk memperindah taman ini dengan menanam bunga-bunga berkelopak jingga dan kuning, serta membangun air mancur di tengah kolam yang lebar.

Tapi karena bersamamu, aku betah-betahkan saja duduk di kursi beton yang letaknya mengelilingi kolam.
Continue reading

[Pria Kopi – 2] Kejutan Kecil

kejutan-mawarSiang itu sungguh terik. Sinar matahari menyilaukan mata, padahal sudah melewati pukul satu siang. Meski peluh berlomba lari di atas kulit leherku, aku tak mengucir rambut ikalku yang panjangnya sedikit melebihi bahu. Tak kuhiraukan mata harus memincing atau rambut yang menempel di kulit, aku bersemangat menggandeng tangan dua teman kuliahku menuju kantin kampus.

Setelah kami kenyang dengan semangkuk bakso solo dengan tambahan lontong dan segelas es jeruk peras, kami beranjak menuju parkir untuk berpisah dan merindu dengan empuknya kasur kamar. Kali ini parkir masih sedikit lagi jaraknya, saat aku melihatmu berdiri di bawah penunjuk jalan ‘Dilarang Berhenti’. Langkahku terhenti, membuatku tertinggal agak jauh dari teman-temanku.
Continue reading

[Pria Kopi – 1] Perkenalan Air Putih dan Kopi

Kami bertemu saat masih sama-sama culun, tak tahu bagaimana cinta bisa menjadi bara dalam kepala yang membeku karena tumpukan beban hidup. Aku ingat, dia tersenyum sangat manis saat membantuku mengambil kaleng-kaleng buah leci yang berhamburan di lantai sebuah toserba, karena kelemahanku -tampaknya- dalam mengendalikan syarafku.

“Terima kasih,” ucapku. Tapi tak ada kata balasan. Dia hanya tersenyum. Dan kutahu dia hanya memiliki sebuah lesung di pipi kanannya saja.

Entah magnet bernama apa yang dia pasang di tubuhnya, membuatku tiba-tiba tertarik mendekatinya. Meskipun saat itu dia sudah berdiri di kasir dengan menyelipkan jemari kirinya di saku celana. Dan hal paling tidak masuk akal yang aku lakukan hari ini adalah meninggalkan troli belanjaanku lalu berjalan cepat menyusulnya yang sudah keluar dari toserba.

“Maaf,” ucapku dengan nafas tersengal-sengal. “Nama kamu siapa?”

Continue reading