[Flash Fiction] Taksi

taksi+taksijono

credit

 

Roda taksi berhenti di depan rumah tua dengan warna cat dinding yang mulai memudar. Dua pintu besar seolah siap menjadi penerima tamu, saat Yoga turun dari taksi. Setelah meminta sopir untuk menunggunya, Yoga beranjak menuju pintu.
Lama aku tak kemari, Ibu.


Yoga urung hendak mengetuk pintu karena pintu terbuka pelan oleh seorang laki-laki usia enampuluhan. Pak Sugeng namanya.

“Masuk, Yoga. Bapak sudah nunggu kamu dari tadi,” ucap laki-laki yang selama ini dipanggil Bapak oleh Yoga.

“Bapak sehat?” tanya Yoga sambil meletakkan satu kantung plastik jeruk di atas meja. Ada getar di tubuh Yoga saat memasuki rumah ini. Rumah yang penuh kenangan tentang masa kecilnya. Rumah yang menyimpan sebuah rahasia besar dalam hidupnya.

“Alhamdulillah. Kemarin sempat batuk, tapi obat puskesmas saja udah cukup,” jawab pak Sugeng sambil meletakkan teko berisi teh dan dua buah cangkir. “Ayo diminum.”

Dengan sigap Yoga menuang isi teko ke dalam cangkir. Tekonya tak lagi hangat di telapak tangan. Begitu pula dari dalam cangkir yang tak ada asap yang mengepul.

“Shena dan Fino, gimana kabar mereka?” tanya pak Sugeng sambil menerima cangkir yang disodorkan Yoga padanya.
“Shena sehat, Pak. Fino tahun ini sudah masuk PAUD.”

“Nggak kamu ajak ke sini sekalian? Kan bisa menginap di sini selama kamu tugas.”

Yoga diam sejenak mencari alasan. “Shena kan ngajar, Pak. Susah buat izin, muridnya mau ujian nasional. Sedangkan Fino, Bapak kan tahu sendiri dia nggak bisa pergi kalau nggak sama ibunya.”

Pak Sugeng mengangguk-anggukan kepala, mencoba memahami alasan yang disampaikan Yoga. Ada banyak rindu pada cucu tunggalnya itu, tapi jarak antar kota yang sangat jauh menjadi kendala untuk bertemu.

“Kamu beneran nggak jadi menginap di sini?” tanya pak Sugeng saat melihat taksi yang masih parkir di halaman rumah.

“Terlalu jauh Pak, tempatnya dari sini. Takut nggak kekejar jamnya.”

Pak Sugeng menghembuskan nafas. Kali ini tampak sekali ada kecewa di wajahnya yang tertunduk menatap cangkir digenggamannya. Yoga merasa tak enak, tapi begitulah nyatanya.

“Nanti kalau longgar, aku kemari, Pak.”

***

Waktu satu jam terasa singkat bagi pak Sugeng. Tapi panggilan di telepon genggam Yoga dari atasannya, menjadi penyebab berhentinya perbincangan mereka.

Setelah berpamitan dan memeluk laki-laki yang mendampingi tumbuh kembangnya sejak dia bayi, Yoga bergegas menuju taksi.

“Dulu kamu kemari selalu bawa motor. Sekarang taksi,” ucap pak Sugeng sembari ketawa.

Yoga ikut tertawa. “Dulu dekat, Pak. Kalau ini, fasilitas kantor.”

“Hati-hati. Sempatkan mampir sebelum pulang ke Semarang,” kata pak Sugeng sambil menyerahkan sebuah amplop dari dalam saku bajunya. “Oh iya, baca ini setelah sampai.”

Yoga tertegun sejenak, namun cepat-cepat dia terima surat itu sambil tersenyum.

***

Di dalam taksi, air mata Yoga terjatuh menimpa surat di genggamannya. Isinya, sama dengan perbincangan terakhir dengan ibunya sebelum beliau wafat.

“Meskipun Bapakmu bukan bapak kandungmu, dia adalah laki-laki yang mencintai Ibu lebih dari siapapun. Dia bersedia mengorbankan dirinya untuk keluarga Ibu yang sedang menanggung malu karena Ibu hamil tanpa suami. Tetap hormati dia, Yoga. Meskipun Ibu sudah meninggal.”

***
Jumlah kata : 475

“Flashfiction ini diikutsertakan dalam Tantangan Menulis FlashFiction – Tentang Kita Blog Tour”

Advertisements

Tagged: ,

14 thoughts on “[Flash Fiction] Taksi

  1. istiadzah 07/04/2015 at 2:16 pm Reply

    Jadi Yoga udah tau dari dulu?
    Aku pikir Yoga ini mau ceritain masalah Yoga sama Shena, ternyata ini tentang Yoga dan bapaknya. 😀 😀 😀

    • Ria Rochma 08/04/2015 at 10:21 am Reply

      Eheeheh..
      Ah, berarti ceritaku nggak sampai *nangis gulung-gulung*
      Efek kelamaan ga nulis 😀

  2. junioranger 07/04/2015 at 2:29 pm Reply

    bergetar…. tambahin ending yg lebih menyayat kyaknya bs nangis. *nagih*

    • riarochma 08/04/2015 at 10:27 am Reply

      Nggak cukup jatah katanya 😀

  3. tyasetarabitansardjono 07/04/2015 at 8:20 pm Reply

    wah taksi samaan dung tapi

    good luck ya mak tuk lomba ff nya
    @guru5seni8
    http://hatidanpikiranjernih.blogspot.com

  4. jiah al jafara 07/04/2015 at 9:20 pm Reply

    Ego lelaki…

  5. dian farida ismyama 08/04/2015 at 1:32 am Reply

    So sweett…

  6. RedCarra 08/04/2015 at 12:50 pm Reply

    Yeay. Ria nulis fiksi lagi yeay 😆
    Makasih sudah bersedia “turun gunung” 😀

    • riarochma 16/04/2015 at 3:18 pm Reply

      ahahaha..
      sama-sama mbak Carra 😀

  7. Indah Sulistyowati 09/04/2015 at 6:15 am Reply

    Ga sampe bikin nangis mbak… tapi ada rasa ngilu di hati 😦

    Semoga yoga bisa membalas cinta tulus sang bapak 😉

  8. Attar Arya 09/04/2015 at 9:54 am Reply

    Menyentuh…tapi sikap Yoga agak kurang jelas : apakah dia masih menyimpan hormat yang sebenarnya atau karena alasan sopan-santun saja. 🙂

    • riarochma 16/04/2015 at 3:17 pm Reply

      hm.. iya ya.. aku masih belum bisa menunjukkan itu 🙂
      makasih masukannya, bang Riga 🙂

Menerima komentar, kritik, saran dan mie ayam ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: