[Flash Fiction] MFF #40 : Ketakutan Terbesar

images“Ayolah Lusi … Sampai kapan kamu akan mengurung diri?” Rika bertanya. Aku bergeming. Semakin erat guling yang kupeluk, sambil sesekali kuusap-usap kedua telapak tanganku di paha.

“Kemana Lusi yang dulu bersemangat dan bisa mengatasi masalah terbesarmu itu?” Rika kembali bertanya dengan badan yang dicondongkan ke arahku. Cepat-cepat kumundurkan punggung beberapa senti meskipun sebenarnya tak ada lagi jarak antara punggungku dan tembok. Jantungku mulai berdebar kencang dan jemariku bergetar, tapi kusembunyikan dengan saling mengaitkannya.

“Lusi …” ucap Rika sambil melangkah menuju arahku, tapi urung dilakukannya. Mungkin melihat wajahku yang mulai pucat. Lantas dia kembali duduk di kursi rias. Wajahnya menunjukkan kekhawatiran.

“Aku ingin sendiri.”

“Sampai kapan?”

Aku diam. Karena tak sabar menunggu jawabanku, Rika berdiri dan mengambil tas yang diletakkan di lantai lalu berpamitan. Tapi saat akan menutup pintu, dia memutar tubuhnya dan berkata, “Cobalah ke psikiater. Sembuhkan fobiamu itu.”

Aku mendengarkan saran Rika, tapi tak kutanam di otak. Karena setelah Rika pergi, aku segera mengambil kain bersih dan sapu yang kugunakan untuk membersihkan kursi rias dan lantai. Dan setelah kurasa bersih, berulang-ulang kucuci tanganku di wastafel.

***

Kuperhatikan papan nama yang terpasang di depan pagar. Ya, ini dia!

Sebenarnya aku ragu untuk datang ke psikiater, tapi pesan Rika tempo hari terus mendengung di kepalaku. Aku sudah lelah bertahun-tahun hidup dengan ketakutan pada kotor. Kukeluarkan tissue dari dalam tas dan menggunakannya untuk membuka pintu geser.

***

Tak butuh waktu lama untuk aku menunggu dipersilakan memasuki ruangan kerja bu Vionna. Ruang kerja yang rapi, dengan lemari tinggi berisi buku-buku tebal, sebuah sofa yang tak terlalu panjang yang berhadapan dengan sebuah kursi dengan dudukan empuk.

“Silahkan duduk,” ucap bu Vionna.

Aku tak yakin ruangan ini bersih, apalagi lemari buku itu. Pasti ada banyak debu di sana. Jantungku berdebar semakin kencang. Kembali kukeluarkan tissue dari dalam tas dan menggunakannya sebagai alas duduk di sofa.

“Ada yang bisa saya bantu?” tanya bu Vionna yang kini duduk berhadapan denganku.

“Tolong bantu hilangkan fobia saya, Bu.”

“Ketakutan pada sesuatu yang menurut Anda kotor?” tanyanya. Aku mengernyitkan alis. Kok bisa dia tahu?

“Saya perhatikan Anda ragu untuk duduk di sofa saya yang bersih. Dan Anda menggunakan tissue saat bersentuhan dengan benda-benda di sekitar Anda,” ucapnya tanpa ragu. Aku tersenyum kecut mendengar kebenaran yang bu Vionna sampaikan.

“Kita mulai dari mana?” Tanyanya sambil menyiapkan bolpoin dan buku catatan. Siap untuk mendengarkan ceritaku.

Ya, cerita tentang fobiaku, yang membuatku memilih mengurung diri di rumah dan menghindari bertemu banyak orang karena tak ingin tubuh dan bajuku menjadi kotor.

“Ceritakan, sejak kapan Anda merasa terganggu dengan kondisi Anda?”

Kuputar kembali memori jangka pendekku. Tak ada cerita di sana. Lalu kuputar memori jangka panjangku dan memasuki masa-masa SMA. Saat aku tidak disukai beberapa teman perempuan karena menurut mereka, aku tak pernah mau memberi mereka jawaban saat mengerjakan PR dan ulangan. Juga karena mereka tidak senang aku dekat dengan Tio, si ganteng yang merupakan tetanggaku. Akibatnya, sering kali mereka mendorongku di toilet belakang sekolah dan mengunciku di sana. Atau menyiramku dengan pasir sisa pembangunan gedung sekolah, yang mungkin saja bercampur dengan tai kucing.

_____

Automysophobia : fobia kotor

Advertisements

Tagged: , , ,

28 thoughts on “[Flash Fiction] MFF #40 : Ketakutan Terbesar

  1. jampang 02/03/2014 at 9:42 am Reply

    repot banget kalau phobia sama kotor.

    • missrochma 02/03/2014 at 10:52 am Reply

      Saya aja ga bisa bayangin, mas. Ada dl, film jepang yg tokohnya pny fobia kotor. Kasihan sekali

  2. Attar Arya 02/03/2014 at 12:25 pm Reply

    Jadi, dokternya ngasih saran apa? 🙂

    • missrochma 02/03/2014 at 12:43 pm Reply

      Pastinya sih ilangin fobianya, bang 🙂
      Tapi kan dari terapi 🙂

      • Attar Arya 03/03/2014 at 1:59 pm Reply

        i wish i can read the rest of the story… 🙂

  3. Ahmad Alkadri 02/03/2014 at 3:08 pm Reply

    Jadi ingat, ada orang yang kalau mau jabat tangan dengan orang lain harus pakai sarung tangan… :O Apa fobia ini juga ya?

    • missrochma 02/03/2014 at 3:58 pm Reply

      Mungkin ya. Tapi tak semua orang yang tak suka sesuatu itu dikatakan memiliki fobia. Mungkin, yg dikatakan mas itu hanya sebatas dy menjaga kebersihan? Entahlah 🙂

      • Ahmad Alkadri 02/03/2014 at 4:14 pm Reply

        Iya benar, mungkin juga ya mbak :O

        • missrochma 02/03/2014 at 7:24 pm Reply

          Dulu, saya kira saya fobia kucing. Kl liat kucing langsung lompat. Nyatanya, sekarang baik2 saja. Sepertinya saya hanya takut dan jijik saja. Kira-kira seperti itulah yang dikatakan mas tadi 🙂

  4. Ryan 03/03/2014 at 5:32 am Reply

    dulu pernah baca novel indo, orangnya itu maunya bersih mulu. harus pakai pakaian dalam disposable segala. sama gak ya phobianya?

    • missrochma 03/03/2014 at 7:36 am Reply

      Mungkin. Tapi yang pasti, fobia itu muncul karena ada sebab kuat di masa lalu. Seperti trauma. Apa di novel itu disebutin traumanya?

      • Ryan 03/03/2014 at 2:09 pm Reply

        Lupa saya. Dah lama bacanya.

  5. Ika Koentjoro 03/03/2014 at 6:03 am Reply

    Rempong badai ya kalo punya phobia yang satu ini.

    • missrochma 03/03/2014 at 7:35 am Reply

      Betul mak, gak kebayang dia kemana-mana harus steril

  6. Orin 03/03/2014 at 8:57 am Reply

    Duh….padahal kan seru main kotor2an *halah, OOT pisan* hihihi

    • missrochma 03/03/2014 at 9:20 am Reply

      Memang seru mbak main kotor. Kasihan ya…

  7. Helda Fera Puspita 03/03/2014 at 10:48 am Reply

    Mungkin sebagian besar alasan phobia itu dari trauma kali ya Mbak? *sok menganalisis 😀

    • missrochma 03/03/2014 at 10:49 am Reply

      yang saya baca sih seperti itu, mbak 🙂

  8. rumahsehatindonesia 04/03/2014 at 10:48 am Reply

    web ini emang bener keren

  9. rina susanti 04/03/2014 at 12:34 pm Reply

    baru tahu ada phobia kotor

    • missrochma 05/03/2014 at 1:23 pm Reply

      Hihi, saya sudah tau lama, mbak 🙂

  10. Akhmad Muhaimin Azzet 05/03/2014 at 9:06 am Reply

    hiii…. pasir itu bisa jadi kecampuran tai kucing…. bauuu… kotor… hiiiii….

  11. wyuliandari 05/03/2014 at 1:14 pm Reply

    Ya Allah, kasihan ya ….. #eh kok kayak beneran

    • missrochma 05/03/2014 at 1:22 pm Reply

      Kasihan mmg, mbak. Pasti susah hidup dg fobia

  12. Chrismana"bee" 20/03/2014 at 9:41 am Reply

    Kalo punya pembantu gitu pasti seruu,.. rumah jadi kinclong 😆

  13. giewahyudi 22/03/2014 at 2:13 am Reply

    Kayaknya karena dari kecil suka dimarahin waktu main kotor-kotoran nih. Berani kotor itu baik kok.

    • missrochma 22/03/2014 at 5:02 am Reply

      Berani kotor itu mmg baik kok, mas 🙂

Menerima komentar, kritik, saran dan mie ayam ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: